Pendidikan adalah dunia nyata yang harus kita selami bersama....nikmatilah dunia pendidikan yang sekarang kamu geluti.

Selasa, 27 Mei 2008

Nilai Artistik Feature

  1. NILAI ARTISTIK FEATURE

Feature biasanya ditulis oleh wartawan (jurnalis) untuk disiarkan di media massa kepada para pembaca. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan, feature bisa ditulis oleh penulis lepas (freelance writer).

Feature biasanya ditulis untuk mendukung berita yang lagi hangat, misalnya berita tentang kasus poligami seorang tokoh. Maka wartawan membuat feature yang memuat kisah yang cukup detail tentang poligami yang diilhami oleh orang lain (tokoh lain) sebagai pembanding berita yang lagi hangat tersebut. Sebagai contoh, kita bisa melihat feature di koran Jawa Pos, harian yang terbit di Surabaya. Feature di koran itu biasa dimuat di halaman pertama paling bawah.

Feature adalah salah satu produk wartawan dalam media cetak yang juga termasuk kategori berita. Pakar jurnalistik sering menyebutnya dengan feature news. Karena tergolong berita, feature menyajikan permasalahan yang ada dalam kehidupan masyarakat dengan data-data atau fakta-fakta, memiliki informasi penting dan bermanfaat bagi pembaca.

Bertolak dari beberapa pendapat feature adalah karangan yang menyajikan permasalahan kehidupan yang menarik dari data dan fakta yang akurat dan lengkap, tetapi disajikan secara khas dan santai, serta memberikan hiburan. Penyajian permasalahan dalam feature bersifat tidak formal.

Permasalahan apa yang menarik untuk disajikan dalam feature? Semua permasalahan atau peristiwa yang ada dalam kehidupan, asalkan diperoleh data-datanya boleh disajikan dalam bentuk berita, reportase, dan feature, bahkan juga bisa diangkat menjadi artikel, tajuk rencana, dan kolom. Namun, harus diakui permasalahan yang diangkat menjadi feature harus didasarkan pada permasalahan yang dianggap penting dan memiliki daya tarik untuk diketahui pembaca dan disajikan secara sederhana, khas, ringan, dan menghibur.

Secara fisik, feature hampir sama dengan reportase, terdiri dari judul (head line), kemudian teras (lead), dan tubuh berita (body). Yang membedakan adalah dari pilihan judul, penyajiannya yang lincah, santai, enak dibaca, tidak formal, menghibur.

Dari aspek waktu, feature memiliki kesamaan dengan reportase. Feature tidak terikat pada waktu (timely). Materi feature tidak mengenal permasalahan yang basi, karena feature sangat bergantung pada penyajiannya yang memiliki daya tarik dan menyentuh rasa manusiawi pembacanya. Untuk membuat feature, wartawan memiliki waktu yang cukup panjang dan tidak perlu tergesa-gesa seperti menyusun berita langsung.

Banyak persoalan kehidupan yang ditemui wartawan, namun tidak semua persoalan menarik bagi pembaca. Tetapi, bagi wartawan yang peka, akan menyadari ada sesuatu yang menarik dari persoalan itu. Persoalan itu kurang tepat kalau dijadikan berita atau reportase akan lebih baik dan bermanfaat jika disajikan melalui feature. Ada informasi-informasi berharga untuk disampaikan kepada pembaca. Sebab, wartawan memiliki sudut pandang yang khas yang tak dipunyai orang lain. Itulah yang dinamakan ketajaman naluri kewartawanan. Dan feature menjadi sarana untuk mengasahnya.

Lebih jelasnya, Rahardi (2006: 30) memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara feature dengan berita dan feature dengan artikel. Berita lebih mengutamakan fakta dan data aktual (berdasarkan peristiwa aktual) yang ditulis secara lempang tanpa opini (straight news), dengan opini dari luar si penulis (intepreted news), maupun opini dari penulis (intepretative news). Artikel ditulis berdasarkan data dan fakta (belum tentu peristiwa aktual), diberi analisis dan opini (berupa fakta dan data tandingan) dari penulis. Feature merupakan tulisan berdasarkan data dan fakta peristiwa aktual, tetapi materinya diseleksi dengan lebih menekankan segi human interest.

Tidak ada komentar: