Pendidikan adalah dunia nyata yang harus kita selami bersama....nikmatilah dunia pendidikan yang sekarang kamu geluti.

Kamis, 27 Maret 2008

Analisis Soal UAN SMP

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia (Djamarah, 2000: 22). Jadi, bisa dikatakan bahwa meningkatnya kualitas manusia searah dengan perkembangan pendidikan. Namun, dewasa ini perkembangan pendidikan diramaikan dengan maraknya kontroversi diadakannya Ujian Akhir Nasional (UAN). Mengingat, kejadian pada tahun 2006, banyak siswa SMP maupun SMA yang harus mengulang setahun karena gagal menghadapi UAN. Hal itu seperti yang terjadi di Karawang, tercatat sebanyak 12 orang siswa SMK yang mengalami gagal ujian (Gim-Pih, 2007). Pada akhirnya, UAN pada tahun ini tetap dilaksanakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 45 tahun 2006/2007 pasal 1 yang menegaskan bahwa Ujian Nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Kemudian, pada pasal 3 disebutkan bahwa Ujian Nasional bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran yang ditentukan dari kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka pencapaian standar nasional pendidikan. Tanpa diadakan UAN, maka pencapaian standar nasional tidak akan pernah bisa diketahui. Dengan mengetahui pencapaian standar nasional, maka dapat pula mengetahui peningkatan mutu pendidikan.jadi, mutu pncapaian standar nasional tersebut dapat pula digunakan untuk mengukur salah satu indikator peningkatan mutu pendidikan.
Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dengan mengetahui hasil ujian nasional. Hal ini ditekankan pada pasal 4 bahwa hasil UAN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk:
a. pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan;
b. seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;
c. penentuan kelulusan peserta didik dai suatu satuan pendidikan;
d. akreditasi satuan pendidikan;
e. pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Hasil UAN dapat digunakan untuk pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan, hasil ujian nasional digunakan sebagai tolok ukur mutu satuan pendidikan. Hasil ujian tersebut dapat dipetakan pada tiap tahunnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dengan jelas naik turunnya kredibilitas dari program pendidikan tersebut. Nilai UAN juga dapat digunakan sebagai persyaratan masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, digunakan untuk seleksi ketat masuk tidaknya peserta didik.
Hasil UAN merupakan salah satu faktor penentu kelulusan peserta didik selain persyaratan kelulusan lainnya seperti nilai rapor. Predikat kelulusan ini dikategorikan mnjadi tiga. Pertama, nilai rata-rata kelulusan (NK) lebih besar atau sama dengan 8,5 memperoleh predikat sangat baik. Kedua, NK lebih besar atau sama dengan 7,5 dan kurang dari 8,5 berpredikat baik. Ketiga, NK kurang dari 7,5 mendapat predikat cukup. NK diperoleh dari total penjumlahan rata-rata nilai rapor semester I-VI, rata-rata nilai ujian sekolah, dan rata-rata nilai ujian nasional dibagi dengan tiga (Gim-Pih, 2007).
Satuan pendidikan dapat memeroleh akreditasi dengan nilai A, B, C, dan seterusnya, jika telah memenuhi persyaratan. Salah satu persyaratan dalam pemberian akreditasi yang baik ialah output yang dihasilkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan itu bagus. Output yang dimaksud adalah nilai ujian nasional satuan pendidikan tersebut memiliki rata-rata nilai yang memenuhi standar. Dengan demikian, pemerintah dapat mmberikan bantuan kepada satuan pendidikan yang telah memenuhi syarat dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Mata pelajaran yang diujikan pada UAN untuk SMP, MTs, dan SMPLB meliputi bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Menurut pasal 8 ayat 2 UU nomor 45 tahun 2006 tersebut menjelaskan bahwa soal ujian yang diberikan pada UAN 2007 menggunakan standar kompetensi kelulusan irisan (interseksi). Soal-soal diambil dari irisan pokok bahasan kurikulum 1994, standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum 2004, dan standar isi. Nilai rata-rata kelulusan UAN untuk tahun 2007 dinaikkan dari 4,51 menjadi 5,00 dengan ketentuan: peserta dinyatakan lulus jika memperoleh nilai rata-rata minimal 5,00 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan tidak ada nilai di bawah 4,25 atau memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu meta pelajaran dengan nilai dua mata pelajaran lainnya minimal 6,00.
Dua alternatif kelulusan tersebut lebih luwes sekaligus menampung berbagai aspirasi yang berkembang. Alternatif lain yang dilakukan untuk mata pelajaran bahasa Indonesia pada tahun 2007 ini ialah soal dibedakan menjadi dua macam. Hal ini merupakan uji coba untuk meminimalisasikan adanya kecurangan-kecurangan yang dillakukan peserta ujian yang biasanya memberikan jawaban kepada teman lainnya. Dua soal ini memiliki bobot soal yang sama, hanya wacana soal yang dibedakan namun deskriptor dan tingkat pencapaian yang digunakan memiliki standar yang sama (data deskriptor terlampir).hal ini juga digunakan untuk menjawab fenomena yang terjadi di masyarakat bahwa soal bahasa Indonesia itu terlalu sulit dengan beban materi yang terlampau banyak.
Untuk membuktikan wacana tersebut, maka penelitian ini akan difokuskan pada analisis soal UAN mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tingkat SMP dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal. Ketiga cara tersebut dapat dijadikan sebagai ukuran untuk mengetahui soal itu baik atau tidak baik (Nugiyantoro, 1995: 131). Dengan demikian, akan didapatkan soal-soal yang baik, kurang baik, dan soal yang jelek, sehingga dapat ditarik kesimpulan tentang wacana yang terjadi di masyarakat. Selain itu, dengan analisis soal melalui ketiga aspek tersebut akan diketahui tingkat kelayakan soal yang merujuk pada validitas dan reliabilitas soal.
Analisis soal ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui butir-butir item yang membangun tes UAN tersebut sudah dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar yang memadai atau belum. Identifikasi terhadap setiap butir soal UAN itu dilaksanakan dengan harapan akan menghasilkan berbagai informasi berharga yang dijadikan sebagai umpan balik (feed back) guna melakukan perbaikan, pembenahan, dan penyempurnaan kembali terhadap butir-butir soal yang telah dikeluarkan dalam UAN tahun ini. Sehingga, pada tahun-tahun yang akan datang dapat disusun dengan kualitas yang lebih baik (Sudijono, 2005: 369-370). Oleh karena itu, penelitian ini hanya dibatasi pada analisis soal mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tingkat SMP dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal. Hal ini juga dilatarbelakangi adanya kenyataan bahwa belum ada penelitian sebelumnya yang membahas tentang soal UAN SMP tahun 2007 karena masih tergolong baru.

B. Rumusan Masalah
Sejalan dengan latar belakang di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimana analisis soal UAN tingkat SMP mata pelajaran bahasadan sastra Indonesia tahun 2007 pada soal A dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal?
2. Bagaimana analisis soal UAN tingkat SMP mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tahun 2007 pada soal B dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal?
3. Bagaimana perbandingan analisis soal UAN tingkat SMP mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tahun 2007 pada soal A dan soal B dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, tujuan penelitian ini diuraikan sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan analisis soal UAN tingkat SMP mata pelajaran bahasadan sastra Indonesia tahun 2007 pada soal A dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal?
2. Mendeskripsikan analisis soal UAN tingkat SMP mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tahun 2007 pada soal B dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal?
3. Mendeskripsikan perbandingan analisis soal UAN tingkat SMP mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tahun 2007 pada soal A dan soal B dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal?

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini khususnya digunakan untuk perbaikan kualitas soal yang diujikan pada ujian nasional tingkat SMP.
1. Bagi pendidik dan peserta didik
Pendidik/guru dapat memperoleh masukan mengenai butir-butir soal yang baik, dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal. Sehingga, guru dapat melatih peserta didik dengan soal yang memenuhi standar soal yang baik. Hal ini dilakukan sebagai bentuk persiapan agar peserta didik terbiasa menghadapi soal-soal yang setipe dengan soal-soal UAN yang dikeluarkan. Dengan harapan, ketika menghadapi ujian nasional, peserta didik tidak terlalu kesulitan dalam menjawab soal tersebut.
2. Bagi penyusun/perancang soal (tester)
Tester dapat memperoleh masukan berkaitan dengan butir-butir soal yang berkualitas baik dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal. Sehingga, tester dapat menyusun soal yang dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar yang memiliki kualitas soal yang baik.

E. Asumsi
Penelitian ini didasari asumsi sebagai berikut.
1. Ujian Nasional merupakan jenis kegiatan yang menarik untuk diteliti, sebab merupakan salah satu syarat kelulusan peserta didik selama bersekolah.
2. Ujian Nasional merupakan bukti pengukuran kemampuan peserta didik yang dilaksanakan tiap tahun sehingga soal-soal UAN harus memiliki standar kualitas soal yang baik.
3. Soal-soal UAN merupakan dokumen rahasia sehingga membutuhkan koordinasi yang baik antar pihak yang terkait terutama dalam pembuatan soal-soalnya.

2. Kajian Pustaka
A. Pengertian Evaluasi Pendidikan
Menurut Davies (Santiung, 2006: 81) evaluasi merupakan proses sederhana memberikan/menetapkan nilai sesuatu tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses orang, dan objek. Sedangkan menurut Ratumanan (2003: 1)Evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu proses sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan instruksional.
Jadi, evaluasi dapat diartikan sebagai suatu proses yang sistematis untuk mengetahui tingkat pencapaian belajar siswa berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
Jika evaluasi dikaitkan dengan pendidikan maka evaluasi pendidikan memiliki dua konsep pengertian. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudijono (2005: 2) bahwa evaluasi pendidikan adalah:
1. proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan;
2. usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan.
Kesimpulan yang dapat diambil melalui dua konsep pengertian di atas, evaluasi pendidikan adalah evaluasi yang digunakan untuk menentukan kemajuan pendidikan sekaligus memberikan umpan balik tentang efektivitas pengajaran yang telah dilakukan oleh guru yang bersangkutan.

B. Hubungan antara Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi
Menurut Arikunto (2003: 3) dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, memaparkan tentang perbedaan pengukuran, penilaian, dan evaluasi.
• Pengukuran (measurement) adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.
• Penilaian (assessment) adalah mengambil suatu kepentingan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.
• Mengadakan evaluasi berarti meliputi kedua langkah tersebut, yakni mengukur dan menilai.
Jadi bisa dikatakan bahwa evaluasi itu terdiri atas unsur-unsur kualitatif dan kuantitatif yang dipadukan dengan bentuk penilaian yang berupa pertimbangan (value judgment).

C. Tujuan Evaluasi Pendidikan
Secara umum, evaluasi pendidikan memiliki beberapa tujuan. Nurgiyantoro (1995: 15-17) menjelaskan sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan. Tujuan-tujuan itu mulai dari tujuan instruksional khusus sampai dengan tujuan yang dibebankan kepada lembaga (sekolah) yang bersifat umum dan abstrak.
2. Untuk memberikan objektivitas pengamatan terhadap tingkah laku hasil belajar siswa. Kegiatan penilaian dilakukan dengan mencocokkan dan mengggabungkan data-data hasil pengamatan dan pengukuran untuk mendapatkan hasil yang lebih objektif.
3. Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bidang-bidang atau topik-topik tertentu. Guru akan memperoleh informasi tentang tingkat penguasaan siswa terhadap mata pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut.
4. Untuk menentukan layak tidaknya seorang siswa dinaikkan/dinyatakan lulus dari tingkat pendidikan yang ditempuhnya. Pertimbangan tersebut didasarkan pada hasil pengukuran belajar siswa. Hasil yang dicapai siswa harus memenuhi standar minimal yang ditentukan sehingga siswa yang bersangkutan dapat dinyatakan naik kelas/ lulus ujian.
5. Untuk memberikan umpan balik bagi kegiatan belajar mengajar yang dilakukan: hasil penilaian sebagai umpan balik kegiatan mengajar guru yang menyangkut masalah pemilihan metode/strategi mengajar.
Berdasarkan uraian mengenai tujuan evaluasi pendidikan di atas, tujuan utama diadakannya evaluasi pendidikan menurut Daryanto (2005: 11) adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Tindak lanjut yang dimaksud dapat berupa:
1. penempatan pada tempat yang tepat,
2. pemberian umpan balik,
3. diagnosis kesulitan belajar siswa, dan
4. penentuan kelulusan.

D. Jenis Evaluasi Pendidikan
Pada umumnya terdapat tiga jenis evaluasi pendidikan.
1. Evaluasi Diagnostik
Tes ini digunakan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan belajar siswa, sehingga dapat diusahakan untuk perbaikannya. Sejalan dengan itu, Arikunto (2003: 34) mengemukakan bahwa evaluasi diagnostik digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Berikut letak evaluasi diagnostik!




Evaluasi diagnostik ke-1 dilakukan terhadap calon siswa sebagai input, untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa tersebut terhadap pengetahuan dasar untuk menerima pengetahuan selanjutnya. Evaluasi jenis ini disebut dengan tes penjajakan masuk (entering behavior test) atau tes prasyarat (pre-requisite test).
Evaluasi diagnostik ke-2 dilakukan terhadap calon siswa yang sudah akan mulai mengikuti program. Pada tahap ini, evaluasi diagnostik berfungsi sebagai tes penempatan (placement test). Hal ini dilakukan untuk menempatkan siswa pada kelompok yang sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki itu.
Evaluasi diagnostik ke-3 dilakukan terhadap siswa yang sedang belajar untuk mengetahui bagian/bahan yang belum dikuasai oleh siswa sehingga dapat melakukan perbaikan.
Evaluasi ini dapat diberikan setelah disajikan tes formatif untuk mengetahui bahan pelajaran tertentu yang belum dikuasai oleh siswa. Setelah diketahui bagian yang belum dikuasai siswa, dapat dibuat butir-butir soal yang lebih memusatkan pada bagian itu, sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi bagian-bagian dari pokok bahasan yang belum dipahami dengan baik. Soal yang dibuat dalam evaluasi ini tingkat kesulitannya relatif rendah agar dapat diperoleh informasi tentang unit tertentu yang belum dikuasai sehingga soalnya tidak dapat dijawab meskipun soal-soal itu umumnya mudah (Daryanto, 2005:13).
Evaluasi diagnostik ke-4 dilakukan pada waktu siswa akan mengakhiri pelajaran untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap bahan yang telah diberikan.
Pada evaluasi ini akan diketahui siswa yang dapat mengikuti program pengayaan dan siswa yang harus mengikuti program perbaikan (remidi). Program pengayaan diberikan pada siswa yang telah mencapai hasil belajar seperti yang sudah ditargetkan. Sedangkan program remidi digunakan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dengan tujuan, siswa tersebut dapat mencapai hasil maksimal setelah mengalami serangkaian program belajar. Jadi, program remidi tidak semata-mata untuk memperbaiki nilai tapi lebih untuk meningkatkan pemahaman.
2. Evaluasi Formatif
Menurut Cangelosi (Ratumanan, 2003: 3) evaluasi formatif merupakan penilaian tentang prestasi siswa yang mempengaruhi rencana pembelajaran. Johnson & Johnson (Ratumanan, 2003: 3) menegaskan bahwa evaluasi formatif merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang terus-menerus, dengan dua pertimbangan, yakni:
a. memberikan siswa umpan balik pada guru mengenai kemajuan mereka ke arah pencapaian tujuan belajar mereka,
b. memberikan umpan balik pada guru mengenai kemajuan mereka dalam mengembangkan pembelajaran yang efektif.
Woolfolk memberikan batasan bahwa evaluasi formatif itu dilakukan sebelum atau selama program pembelajaran dilakukan (Ratumanan, 2003: 3). Berarti evaluasi formatif diberikan bergantung pada setiap pokok bahasan. Hal itu perlu dilakukan untuk mengetahui pencapaian tujuan-tujuan instruksional yamg telah ditetapkan. Evaluasi formatif bisa terjadi lebih dari 3X selama satu semester karena digunakan setiap ketuntasan Kompetensi Dasar. Dengan demikian, diharapkan guru dapat memantau kemajuan belajar siswa demi memberikan umpan balik antara guru dan siswa.
Siswa dapat mengetahui bagian bahan pelajaran yang masih belum dikuasainya agar dapat mengupayakan perbaikannya. Sedangkan guru dapat melihat bagian yang belum dipahami siswa sehingga dapat mengupayakan penjelasan yang lebih baik dan luas agar bahan tersebut dapat dikuasai siswa (Daryanto, 2005: 12-13).
Evaluasi formatif mempunyai manfaat baik bagi siswa, guru, maupun program itu sendiri (Arikunto, 2003: 36-38).
Manfaat bagi siswa:
a. digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap bahan program secara menyeluruh,
b. digunakan sebagai penguatan bagi siswa. Tanda keberhasilan suatu pelajaran akan menambah motivasi siswa untuk belajar lebih giat agar dapat mempertahankan nilai yang sudah baik dan memperoleh nilai yang lebih baik untuk tes selanjutnya,
c. digunakan sebagai usaha perbaikan. Siswa dapat termotivasi untuk meningkatkan penguasaan terhadap bagian/bahan yang masih terdapat beberapa kelemahan,
d. digunakan sebagai diagnosis. Dengan mengetahui hasil tes formatif, siswa dengan jelas dapat mengetahui bagian dari bahan pelajaran yang masih dirasakan sulit.
Manfaat bagi guru:
a. mengetahui tingkat keberhasilan terhadap bahan yang diajarkan,
b. mengetahui bagian-bagian dari bahan pelajaran yang belum menjadi milik siswa,
c.dapat meramalkan sukses tidaknya seluruh program yang akan diberikan.
Manfaat bagi program:
Manfaat bagi program ini dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
a. apakah program yang telah diberikan merupakan program yang tepat dalam arti sesuai dengan kecakapan anak?
b. apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan persyaratan yang belum diperhitungkan?
c. apakah diperlukan alat, sarana, dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang dicapai?
d. apakah metode, pendekatan, dan alat evaluasi yang digunakan sudah tepat?
3. Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif merupakan evaluasi yang dilakukan pada akhir unit program, yakni pada akhir catur wulan, semester, atau akhir tahun dengan tujuan mengetahui pencapaian tujuan-tujuan kurikuler yang telah dicapai siswa (Ratumanan, 2003: 4).
Evaluasi ini merupakan penentu kelulusan dan atau pemberian sertifikat bagi yang berhasil menyelesaikan pelajaran dengan baik. Dalam hal ini, penilaian nasional dapat dimasukkan dalam evaluasi sumatif. Penilaian nasional yang dimaksud adalah Ujian Akhir Nasional yang diterapkan di sekolah-sekolah secara nasional untuk memperoleh pengakuan dan sertifikat di tingkat nasional. Karena itu, digunakan tes terstandar dalam UAN.
Dengan adanya pengakuan, menjadikan semua siswa yang telah memperoleh sertifikat pada jenjang pendidikan tertentu secara nasional berhak melanjutkan pendidikan dan mengikuti seleksi masuk di sekolah di manapun di Indonesia (Depdiknas, 2003: 16-17). Selain itu, sertifikat tersebut bisa juga digunakan untuk mencari pekerjaan.
Evaluasi sumatif memiliki beberapa manfaat (Arikunto, 2003: 39-40), manfaat tersebut ialah:
a. untuk menentukan nilai. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kedudukan siswa,
b. untuk menentukan seorang anak dapat atau tidak mengikuti kelompok dalam menerima program berikutnya. Siswa-siswa yang tidak mampu mengikuti program di kelas berikutnya dapat tinggal kelas,
c. untuk mengisi catatan kemajuan belajar siswa yang akan berguna bagi:
1) orang tua siswa
2) pihak bimbingan dan penyuluhan di sekolah
3) pihak-pihak lain apabila siswa tersebut akan pindah ke sekolah lain, akan melanjutkan belajar, atau akan memasuki lapangan kerja.

E. Alat Evaluasi
Alat evaluasi merupakan sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang dalam melaksanakan tugas atau mencapai tujuan evaluasi secara lebih efektif dan efisien ( Nurgiyantoro, 1995: 25-26 ). Alat evaluasi terdiri atas dua teknik, yaitu teknik nontes dan teknik tes. Dalam kaitanya dengan UAN maka alat evaluasi yang dimaksud adalah tes.
1. Teknik Tes
Tes ialah alat ukur/sejumlah tugas yang harus dikerjakan orang yang dites (testee) yang akan diukur aspek-aspek kepribadiannya yang dianggap dapat mencerminkan hasil belajar. Jadi, teknik tes merupakan suatu bentuk pemberian tugas atau pertanyaan yang harus dikerjakan oleh siswa yang sedang dites.
Menurut Nurgiyantoro (1995: 60-64) tes ditinjau dari penyusunannya, dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Tes buatan guru
Tes buatan guru adalah tes yang dibuat oleh guru kelas itu sendiri untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan setelah berlangsungnya proses pengajaran yang dikelola oleh guru kelas yang bersangkutan.
Tes buatan guru digunakan untuk:
1) mengetahui kadar pencapaian tujuan,
2) mengetahui tingkat penguasaan bahan siswa,
3) memberikan nilai kepada siswa sebagai laporan hasil belajar di sekolah.
b. Tes standar
Standar diartikan sebagai suatu tingkat kemampuan tertentu yang harus dimiliki siswa pada progam-progam tertentu. Penulisan tes standar biasanya dilakukan oleh sebuah tim yang sengaja dibentuk dengan bahan yang didasarkan pada kurikulum atau buku-buku teks yang dipakai secara nasional.
Tes standar bersifat seragam dan dipergunakan di semua sekolah, jadi bersifat nasional. Soal UAN adalah satu contoh tes standar yang digunakan untuk:
1) melengkapi informasi tertentu tentang tingkat hasil belajar siswa,
2) melihat hasil tes standar yang dapat dipergunakan untuk membuat perbandingan tentang prestasi yang dicapai siswa antarsekolah, baik dalam matapelajaran yang sama maupun antarmateri pelajaran.
Dengan melihat hasil itu akan diketahui, sekolah yang tergolong berprestasi/tidak sehingga dapat mendorong adanya persaingan yang sehat, baik antarsekolah, antarindividu, maupun antarkelas dalam satu sekolah.
2. Bentuk Tes
Tes memiliki dua bentuk, yaitu tes subjektif dan tes objektif. Tes subjektif tidak dibicarakan dalam hal ini karena soal UAN termasuk dalam tes objektif yaitu bentuk tes pilihan ganda.
Tes objektif menuntut siswa hanya memberikan jawaban singkat yaitu dengan memilih kode-kode tertentu yang mewakili alternatif-alternatif jawaban yang telah disediakan. Dalam hal ini, tes objektif yang dimaksud adalah soal pilihan ganda.


 Tes Pilihan Ganda
Tes pilihan ganda terdiri atas sebuah pernyataan atau kalimat yang belum lengkap yang kemudian diikuti oleh sejumlah pernyataan atau bentuk yang dapat untuk melengkapinya. Dalam soal UAN SMP, alternatif jawaban yang disediakan adalah 4 buah.
Soal UAN menggunakan tes pilihan ganda karena tes jenis ini memiliki beberapa kelebihan (Nurgiyantoro, 1995: 76-77), yaitu:
a. tes pilihan ganda hanya memungkinkan adanya satu jawaban yang benar,
b. tes pilihan ganda memungkinkan kita untuk mengambil bahan yang akan diteskan secara lebih menyeluruh daripada tes esai,
c. tes pilihan ganda memudahkan pengoreksian.
Selain memiliki kelebihan, tes jenis ini sebenarnya juga memiliki kelemahan (Nurgiyantoro, 1995: 77-78), yaitu:
a. penyusun tes pilihan ganda membutuhkan waktu yang relatif lebih lama, ketelitian, kecermatan, dan kemampuan khusus dari pihak pembuat soal,
b. pihak siswa yang mengerjakan tes mungkin melakukan hal-hal yang bersifat untung-untungan,
c. tes pilihan ganda yang ada dalam soal UAN merupakan soal yang panjang sehingga membutuhkan biaya yang besar dalam pengadaannya.
Untuk menanggulangi kelemahan-kelemahan itu, Nurgiyantoro (1995: 86-88) memberikan saran dalam penyusunan tes pilihan ganda. Saran tersebut ialah:
1) pernyataan pokok hendaknya hanya berisi satu permasalahan,
2) tiap satu butir soal hanya ada satu alternatif jawaban yang paling tepat,
3) semua alternatif jawaban yang disediakan harus mempunyai hubungan gramatikal yang benar,
4) panjang tiap option hendaknya kurang lebih sama,
5) menghindari pemberitahuan jawaban yang benar secara tidak langsung yang mungkin terlihat pada butir-butir soal berikutnya,
6) jumlah jawaban benar untuk masing-masing option hendaknya kurang lebih sama.
Penentuan skor (Nurgiyantoro, 1995: 88)
Rumus yang dapat digunakan dalam menentukan skor adalah
S =
S = Skor
R = Right
W = Wrong
n = Jumlah alternatif jawaban

F. Kriteria Soal yang Baik
Menurut Arikunto (2003: 57-63) soal dapat dikatakan baik harus memenuhi kriteria berikut ini.
1. Validitas
Suatu tes disebut valid apabila tes tersebut mampu mengukur yang hendak diukur dengan tepat. Jadi, kevalidan soal bergantung pada ketepatan alat evaluasi dalam melaksanakan fungsinya.
2. Reliabilitas
Reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai orang yang sama ketika mereka diuji ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen yang berbeda, atau pada kondisi pengujian yang berbeda (Anastasi & Urbina dalam Ratumanan, 2003: 28).
3. Objektivitas
Objektivitas menekankan ketetapan pada skoring
4. Kepraktisan
Tes yang praktis adalah:
a. tes yang mudah dilaksanakan,
b. tes yang mudah pemeriksaannya,
c. tes yang dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas.
5. Ekonomis
Pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.

G. Analisis Butir Soal
Analisis soal (term analysis) merupakan salah satu cara untuk menilai tes. Daryanto (2005: 177) berpendapat bahwa analisis soal adalah suatu prosedur yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun. Tuckman (dalam Nurgiyantoro, 1995: 136) menegaskan bahwa analisis butir soal merupakan analisis hubungan antara skor-skor butir soal dengan skor keseluruhan, membandingkan jawaban siswa terhadap suatu butir soal dengan jawaban terhadap keseluruhan tes.
Analisis soal terutama dapat dilakukan untuk tes objektif, maka dalam kasus ini tes pilihan ganda pada soal-soal UAN SMP tahun 2007 dapat dianalisis dengan cara ini. Manfaat analisis soal adalah:
1. mambantu dalam mengidentifikasi butir-butir soal yang jelek,
2. memperoleh informasi yang tepat digunakan untuk menyempurnakan soal-soal untuk kepentingan selanjutnya,
3. memperoleh gambaran secara selintas tentang keadaan soal yang disusun.
Jadi, analisis soal itu bertujuan untuk mengidentifikasi soal-soal yang baik, kurang baik, dan soal yang jelek. Dengan demikian, dapat memperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan ”petunjuk” untuk mengadakan perbaikan (Arikunto, 2003: 207).
Penganalisisan terhadap butir-butir soal tes hasil belajar dapat dilakukan dari tiga segi, yaitu:
1. Teknik Analisis Tingkat Kesulitan Tiap Butir Soal
Tingkat kesulitan (item difficulty) adalah pernyataan tentang seberapa mudah atau sulit butir soal bagi siswa yang dikenai pengukuran (Oller dalam Nurgiyantoro, 1995: 138). Butir soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar, dengan kata lain tingkat kesulitan item adalah sedang atau cukup.
Menurut Witherington (Sudijono, 2005: 371) angka indeks kesulitan item itu besarnya berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00. Indeks 0,00 (P=0,00) berarti butir soal tersebut termasuk dalam kategori item yang terlalu sulit, sebab testee tidak dapat menjawab item yang betul. Sebaliknya, indeks 1,00 berarti butir soal tersebut sangat mudah karena semua siswa dapat menjawab dengan betul. Robert L. Thorndike dan Elizabeth Hagen (dalam Sudijono, 2006: 372) memberikan penafsiran terhadap angka indeks kesulitan item sebagai berikut.
Tabel 1: Penafsiran angka indeks kesulitan item
Besarnya P Interpretasi
Kurang dari 0,3 Terlalu sukar
0,3-0,7 Cukup (sedang)
Lebih dari 0,7 Terlalu Mudah
Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung indeks kesulitan item (Dubois dalam Sudijono, 2005: 371-371)
P =
P: Proporsi: angka indeks kesulitan item
B: Banyaknya testee yang dapat menjawab betul
JS: Jumlah testee yang mengikuti tes hasil belajar
Soal UAN SMP tahun 2007 baik soal yang tipe A maupun B dianalisis untuk mengetahui tingkat kesulitan soal, setelah itu, tindak lanjut yang pelu dilakukan oleh tester untuk memperbaiki soal tersebut menurut Sudijono (2005: 376-377) adalah:
1. untuk butir-butir soal yang berdasarkan hasil analisis termasuk ke dalam kategori baik, hendaknya butir-butir soal tersebut segera dicatat dalam buku bank soal sehingga soal UAN tersebut dapat dikeluarkan pada UAN tahun-tahun berikutnya,
2. untuk butir-butir soal yang termasuk kategori terlalu sulit, ada tiga hal yang dapat dilakukan:
a. butir item tersebut dibuang dan tidak akan dikeluarkan dalam tes UAN selanjutnya;
b. diteliti ulang, dilacak, dan ditelusuri sehingga dapat diketahui faktor yang menyebabkan butir soal tersebut sulit untuk dijawab. Mungkin kalimat solanya yang kurang jelas, petunjuk mengerjakan soal yang sulit dipahami, atau terdapat istilah-istilah yang kurang jelas dalam soal tersebut, dan sebagainya;
c. butir-butir soal yang terlalu sulit masih dapat digunakan dalam tes-tes seleksi yang sifatnya sangat ketat,
3. untuk butir-butir soal yang termasuk kategori terlalu mudah
a. butir soal tersebut dibuang dan tidak akan dikeluarkan dalam tes UAN berikutnya;
b. diteliti ulang, dilacak, dan ditelusuri sehingga dapat diketahui faktor yang menyebabkan butir soal tersebut mudah untuk dijawab. Mungkin alternatif jawaban yang dipasang ”terlalu kentara” atau ”terlalu mudah” diketahui oleh testee, maka tester harus memperbaiki option tersebut sehingga kunci jawaban dengan pengecoh sulit dibedakan oleh testee;
c. butir-butir soal yang terlalu mudah dapat dimanfaatkan pada tes seleksi yang sifatnya longgar (sebagai formalitas semata).
2. Teknik Analisis Daya Pembeda Tiap Butir Soal
Daya pembeda adalah kemampuan suatu butir soal dalam membedakan antara siswa kelompok tinggi (siswa pandai) dan siswa kelompok rendah (siswa bodoh) (Nurgiyantoro, 1995: 140). Tujuan mengetahui daya pembeda sebagai pegangan untuk menyusun butir-butir soal yang disesuaikan dengan kemampuan testee yang berbeda-beda.
Daya pembeda dapat diketahui dengan melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi (D). Angka indeks diskriminasi adalah sebuah angka atau bilangan yang menunjukkan besar kecilnya daya pembeda yang dimiliki oleh tiap butir soal (Sudijono, 2006: 387).
Besar indeks diskriminasi berkisar antara -1,00 sampai dengan 1,00. Indeks yang semakin besar atau mendekati 1,00 berarti butir soal yang bersangkutan semakin baik sebab semakin nyata perbedaan antara kelompok tinggi dan rendah. Indeks menunjukkan negatif berarti siswa kelompok rendah menjawab dengan betul lebih banyak daripada kelompok tinggi.
Bila angka indeks diskriminasi menunjukkan 0,00 (nihil) berarti butir soal yang bersangkutan tidak memiliki daya pembeda sama sekali (jumlah testee kelompok tinggi yang jawabannya betul/ salah sama dengan jawaban jumlah testee kelompok rendah).
Sudijono (2006: 389) dalam bukunya yang berjudul Pengantar Evaluasi Pendidikan menunjukkan diagram daya pembeda yang tampak berikut ini.
Tabel 2: Interpretasi Indeks Diskriminasi Item
Indeks Diskriminasi Item (D) Klasifikasi Interpretasi
Kurang dari 0,20 Poor Daya pembeda lemah sekali (jelek), dianggap tidak memiliki daya pembeda yang baik
0,20-0,40 Satisfactory Daya pembeda cukup (sedang)
0,40-0,70 Good Daya pembeda baik
0,70-1,00 Excellent Daya pembeda baik sekali
Bertanda negatif - Daya pembeda negatif (jelek sekali)
Rumus yang dapat digunakan untuk mengetahui besar kecilnya angka indeks diskriminasi
Ø =

Ø = Angka Indeks Korelasi Phi, yang dalam hal ini dianggap sebagai angka indeks diskriminasi item
= Proportion of the higher group
= Proportion of the lower group
2 = Bilangan konstan
p = Proporsi seluruh testee yang jawabannya betul
q = Proporsi seluruh testee yang jawabannya salah, dengan q: (1-p)
Sudijono (2006: 408-409) mengemukakan beberapa hal sebagai tindak lanjut atas hasil penganalisisan daya pembeda, dalam hal ini dikhususkan pada soal UAN tahun 2007 yaitu:
a. butir-butir soal yang sudah memiliki daya pembeda soal yang baik, hendaknya dimasukkan dalam bank soal sehingga dapat dikeluarkan pada saat UAN yang akan datang,
b. butir-butir soal yang daya pembedanya masih rendah, ada dua hal yang dapat dilakukan;
1) ditelusuri dan diperbaiki sehingga dapat digunakan untuk UAN yang akan datang;
2) dibuang dan tidak akan dikeluarkan lagi
c. butir-butir soal yang bertanda negatif tidak perlu dikeluarkan pada UAN berikutnya.
3. Teknik Analisis Pengecoh Tiap Butir Soal
Dalam soal UAN SMA tahun 2007 terdapat empat alternatif jawaban (option), salah satu diantaranya merupakan kunci jawaban betul, sedangkan tiga jawaban lainnya merupakan jawaban yang salah. jawaban-jawaban yang salah itu disebut dengan pengecoh (distraktor).
Tujuan utama pemasangan distraktor, agar dari sekian banyak testee yang mengikuti UAN ada yang tertarik untuk memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa distraktor tersebut telah berfungsi dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika distraktor yang dipasang tidak ada yang memilih, berarti distraktor tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Distraktor dinyatakan telah menjalankan fungsinya dengan baik apabila distraktor tersebut sekurang-kurangnya sudah dipilih oleh 5 % dari seluruh peserta tes. Misal, peserta UAN di suatu sekolah adalah 100 orang, maka 5 orang itu sudah terkecoh untuk memilih distraktor tersebut.
Sebagai tindak lanjut atas hasil penganalisisan terhadap fungsi distraktor tersebut, distraktor yang sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik dapat digunakan pada UAN selanjutnya, sedangkan distraktor yang belum dapat berfungsi dengan baik, diperbaiki atau diganti dengan distraktor yang lain.
H. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang serupa pernah dilakukan oleh Supangat dengan judul skripsi “Analisisis Soal Ebatanas Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Tingkat SMU Tahun 2001”. Hasil penelitian ini memberikan deskripsi tentang kelayakan soal Ebtanas Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Tingkat SMU Tahun 2001 dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal. Kelebihan penelitian ini adalah penghitungan statistic yang sangat cermat sehingga diperoleh hasil yang akurat. Namun, penelitian ini seolah-olah berhenti pada angka-angka, tidak ada tindak lanjut pada soal-soal yang tidak memenuhi standar kelayakan soal yang baik dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal.
Penelitian yang kedua dilakukan oleh Nuryati dengan judul ”Analisis Soal Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas II Cawu II SMUN I Kalitidu Tahun Pelajaran 2000/2001. Hasil penelitian selain mendeskripsikan tentang analisis soal dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal juga mendeskripsikan validitas dan reliabilitas soal. Namun, cakupan analisis yang dilakukan manfaatnya hanya berlaku pada kalangan tertentu, bahkan mungkin hasil analisisnya hanya bermanfaat untuk sekolah yang bersangkutan. Hal itu terjadi karena fokus penelitian yang dilakukan Nuryati ini hanya terbatas pada ulangan cawu yang sekarang sudah tidak diadakan lagi, namun telah berganti menjadi ujian akhir semester. Fokus penelitian tersebut tidak terlalu menarik, beda jika penelitian tersebut dilakukan pada soal UAN yang merupakan soal berskala nasional.
Mengingat belum ada yang meneliti soal UAN tingkat SMP, maka pada penelitian kali ini, dengan bidang penelitian yang sama yaitu analisis soal, penelitian ini akan mencoba melukakan analisis pada soal-soal UAN SMP tahun 2007 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang terdiri atas dua soal yaitu soal A dan soal B. penelitian ini lebih ditekankan pada perbandingan tingkat kelayakan antara soal A dan soal B dilihat dari tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal sehingga akan didapatkan identifikasi soal yang baik, kurang baik, dan soal yang jelek. Penelitian kali ini tidak hanya berhenti pada hasil angka-angka namun akan ada tindak lanjut yang lebih berarti berkaitan dengan layak tidaknya tiap butir soal. Dengan demikian, hasil analisis ini dapat digunakan untuk memberi masukan yang berarti dalam penyusunan soal.

3. Metode Penelitian
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian yang berjudul “Perbandingan Analisis Soal UAN tingkat SMP Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tahun 2007 pada Soal A dan Soal B” ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif karena menunjukkan adanya deskripsi terhadap fenomena tentang kelayakan soal UAN tingkat SMP baik pada soal A mupun soal B yang dapat dibuktikan melalui penghitungan angka-angka. Pengukuran tersebut digunakan untuk menganalisis tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal UAN mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tingkat SMP tahun 2007 pada soal A dan soal B. Dengan penghitungan tersebut dapat diketahui perbandingan tingkat kelayakan antara soal A dan soal B tersebut. Untuk pengukuran tersebut menggunakan soal secara statistik untuk memperoleh hasil yang akurat.

B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan diadakan di SMP N 1 Dukun Gresik sebagai tempat uji coba soal UAN mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tingkat SMP tahun 2007 untuk soal A dan soal B yang akan diujikan pada Nopember 2007. SMP ini dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki kekhasan yaitu jumlah siswa tidak lebih dari 30 siswa per kelas. Selain itu, sekolah ini juga dijadwalkan sebagai sekolah rintisan standar internasional. Hal itu menandakan bahwa sekolah ini memiliki standar mutu yang baik sehingga dipercaya pemerintah untuk menjadi sekolah rintisan, meskipun lokasi sekolah ini berada di desa bukan sekolah yang berada di kota.



C. Sasaran Penelitian
Sasaran yang dijadikan penelitian ini adalah seluruh siswa SMP N 1 Dukun kelas IX yang terdiri atas tiga kelas. Siswa-siswa ini merupakan objek yang dijadikan uji coba soal UAN tingkat SMP mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada soal A dan soal B. Berdasarkan hasil uji coba tersebut dapat ditentukan kelompok tinggi, kelompok sedang, dan kelompok rendah. Maka untuk penelitian yang digunakan adalah kelompok tinggi dan kelompok rendah karena kelompok sedang tidak memberikan pengaruh terhadap penghitungan analisis soal.
Hasil perbandingan pada kelompok tinggi: kelompok sedang: kelompok rendah adalah 30: 40: 30, maka yang digunakan dalam analisis adalah 30% untuk kelompok tinggi dan 30% untuk kelompok rendah dari jumlah keseluruhan peserta uji coba soal.

D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian digunakan untuk membantu mengumpulkan data. Instrumen penelitian ini menggunakan kartu data yang berisi jumlah pilihan kelompok tinggi dan kelompok rendah terhadap 50 butir soal sebagai alat untuk mengetahui tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal dalam soal UAN mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tingkat SMP tahun 2007 pada soal A dan soal B. Bentuk kartu data terlampir.

E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk memperoleh data adalah teknik studi dokumenter. Studi dokumenter (documentary study) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen (Sukmadinata, 2005: 221). Studi dokumenter yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil analisis soal UAN tingkat SMP mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tahun 2007 pada soal A dan soal B yang kemudian dibandingkan kelayakan soal di antara keduanya.
Prosedur penelitian yang akan dilakukan untuk mengumpulkan data meliputi beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu:
a. meminta soal UAN mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tingkat SMP tahun 2007 yang terdiri atas dua soal yakni soal A dan soal B kepada kepal sekolah/ guru bahasa Indonesia SMP N 1 Dukun-Gresik,
b. mengadakan uji coba soal UAN mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kepada siswa SMP N 1 Dukun-Gresik yang akan dilaksanakan pada bulan Nopember tahun 2007 oleh 40 seluruh siswa kelas IX,
c. mengumpulkan lembar jawaban peserta uji coba soal,
d. meminta hasil penilaian uji coba untuk memudahkan penghitungan,
e. mengadakan penelitian terhadap hasil uji coba soal pada tiap butir soal, untuk jawaban betul skor tiap butir soal dihitung satu sedangkan untuk jawaban salah dihitung nol,
f. menggunakan intrumen penelitian yang berupa kartu data. Kartu data tersebut berisi jumlah pilihan kelompok tinggi dan kelompok rendah terhadap 50 butir soal sebagai alat untuk mengetahui tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal.

F. Teknik Analisis Data
Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis dengan teknik analisis statistik. Teknik ni digunakan untuk mendeskripsikan angka-angka dalam penghitungan tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal dalam soal-soal UAN mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia tingkat SMP tahun 2007 pada soal A dan soal B.
Prosedur analisis data yang akan dilakukan adalah:
a. mengurutkan skor pada lembar jawaban siswa, mulai dari skor yang tertinggi sampai dengan skor yang terendah,
b. menggolongkan siswa berdasarkan skor yang diperoleh menjadi kelompok tinggi (skor tertinggi), kelompok rendah (skor terendah), dan kelompok tengah. Dari hasil penggolongan tersebut diambil sampel sebesar 30% jumlah siswa yang memiliki skor tertinggi dan 30% untuk skor terendah. Sedangkan untuk kelompok tengah tidak digunakan sebagai sampel karena tidak berpengaruh pada penghitungan tingkat kesulitan , daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal,
c. menganalisis jawaban siswa untuk mengetahui kesulitan , daya pembeda, dan efektivitas pengecoh tiap butir soal pada soal A dan soal B,
d. membuat perbandingan standar kelayakan terhadap hasil analisis antara soal A dan soal B,
e. membuat simpulan terhadap hasil perbandingan tersebut.
Tabel 3: Penentuan Skor
Testee Skor untuk tiap butir soal Skor total Kelompok
1 2 3 4 5 6 …. 50
A 0 1 1 0 2 rendah
B

Dari tabel di atas dapat diketahui tingkat kesulitan (P), daya pembeda (D), dan efektivitas pengecoh dengan penghitungan sebagai berikut:
a. menghitung tingkat kesulitan tiap butir soal
P=
P = angka indeks kesulitan item
B = banyaknya testee yang dapat menjawab betul
JS = jumlah testee yang mengikuti tes hasil belajar
b. menghitung daya pembeda tiap butir soal
Ø=
Ø = Angka indeks diskriminasi item
= Proportion of the higher group
= Proportion of the lower group
2 = bilangan konstan
P = Proporsi seluruh testee yang jawabannya betul
q = Proporsi seluruh testee yang jawabannya salah, dengan q= (1-p)
Tabel 4: Penghitungan Indeks tingkat kesulitan (P), Indeks Daya Pembeda (D), dan efektivitas pengecoh tiap butir soal.
No. Butir soal
P D Ket
1 (a)
b
c
d layak
2 a
b
(c)
d
3
4
5

50
Keterangan:
= jumlah jawaban betul kelompok tinggi
= jumlah jawaban betul kelompok rendah
P = indeks tingkat kesulitan tiap butir soal
D = indeks daya pembeda tiap butir soal
( ) = alternatif jawaban betul
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui kelayakan tiap butir soal pada soal A dan soal soal B. hasil perbandingan kelayakan antara soal A dan soal B digunakan untuk mengetahui presentase kelayakan untuk dijadikan alat evaluasi yang lebih baik.





G. Jadwal Penelitian
Penelitian ini dijadwalkan selama enam bulan dengan deskripsi kerja sebagai berikut.
Jenis Kegiatan Bulan ke-
1 2 3 4 5 6
1. Persiapan Penelitian
a. Pembuatan Proposal X
b. Studi Pendahuluan X X
c. Seminar Proposal Penelitian X
d. Penyusunan Instrumen X
e. Penentuan Lokasi dan sasaran penelitian X
2. Pelaksanaan Penelitian
a. Pengumpulan Data
1) Pengambilan&penggandaan soal UAN dan lembar jawaban uji coba soal UAN
2) Mengadakan uji coba soal UAN
3) Mengumpulkan lembar jawaban peserta uji coba soal
4) Meminta hasil penilaian uji coba
X



X
X

X
b.Analisis Data
1) Menghitung sebaran frekuensi jawaban siswa pada kartu data
2) Mengurutkan skor dan menggolongkan siswa pada kelompok tinggi dan kelompok rendah
3) Menganalisis jawaban siswa (mengetahui tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh pada soal A dan soal B)
4) Membandingkan standar kelayakan pada soal A dan B
X

X













X



X
3. Laporan penelitian
a. Penyusunan Draf Penelitian X X
b. Penyempurnaan Draf X X
c. Seminar Hasil Penelitian X
d. Penyempurnaan Laporan Penelitian X
H. Biaya Penelitian
Biaya yang telah digunakan dalam penelitian ini sejumlah Rp 3.650.000. biaya tersebut dialokasikan sebagai berikut :
1. Honorarium
Guru 500.000
Tenaga Administratif 150.000
Penilaian Proposal 50.000
Pemantau Penelitian 100.000 800.000

2. Bahan dan peralatan
Kertas HVS 5 rim 200.000
Kertas folio bergaris 2 rim 50.000
Tinta printer 200.000
Satu set alat tulis 200.000
Penggandaan soal&LJK 100.000 750.000

3. Komunikasi dan perjalanan
Pencarian data 200.000
200.000

4. Laporan penelitian
Pengumpulan data 300.000
Analisis data 200.000
Penggandaan data 200.000
Revisi draf pelaporan 150.000
Pengetikan naskah dan penjilidan 200.000
1.050.000

5. Seminar
Seminar Proposal 200.000
Seminar Hasil Penelitian 250.000
450.000

6. Biaya lain-lain
Sewa komputer 200.000
Konsumsi selama pelaksanaan penelitian 200.000
400.000

Rekapitulasi Dana :
1. Honorarium 800.000
2. Bahan dan Peralatan 750.000
3. Komunikasi dan perjalanan 200.000
4. Laporan penelitian 1.050.000
5. Seminar 450.000
6. Biaya lain-lain 400.000
3.650.000

4. Daftar Rujukan

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Daryanto, H. 2005. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Depdiknas. 2003. Penilaian Kelas. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta

Gim-Pih. 10 April 2007. Ujian Nasional Dilaksanakan April 2007. Diskusi Seputar Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007, (online), (www.smpit-nurulhikmah.com/indeks, diakses 12 Mei 2007)

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta
Nuryati. 2001. ”Analisis Soal Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas II Cawu II SMUN I Kalitidu Tahun Pelajaran 2000/2001”. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSI FBS Unesa

Ratumanan, Tanwey Gerson dan Theresia Laurens. 2003. Evaluasi Hasil Belajar yang Relevan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Surabaya: Unesa University Press

Santiung, Weely. 2006. ”Pembelajaran Bahasa Indonesia melalui Asesmen Portofolio”. Lidah: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra. 4: 80-88

Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya dan Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Supangat. 2001. “Analisis Soal Ebtanas Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Tingkat SMU Tahun 2001”. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSI FBS Unesa

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2006 tentang Ujian Nasional tahun Pelajaran 2006/2007. 2006. Jakarta: Depdiknas

















Lampiran
KISI-KISI SOAL
Deskriptor Nomor Soal
A B
Siswa dapat menemukan gagasan pokok paragraf 1, 10 1, 10
Siswa dapat menemukan kalimat utama pragraf 2 2
Siswa dapat menemukan fakta dan pendapat pada teks 3, 4, 8, 11 3, 4, 8, 11
Siswa dapat memberikan kritik dan kesimpulan pada teks bacaan 5, 12, 14, 35 5, 12, 14, 35
Siswa dapat menemukan informasi yang relevan dengan teks 6, 9, 15 6, 9, 15
Siswa dapat menggunakan kata tanya 5W+1H untuk teks 7, 13 7, 13
Siswa dapat menemukan unsur-unsur yang ada dalam puisi dan mengaplikasikannya 16, 17, 18, 43, 44 16, 17, 18, 43, 44
Siswa dapat menemukan unsur-unsur yang ada dalam cerpen dan aplikasinya 19, 20, 21 19, 20, 21
Siswa dapat menemukan unsur-unsur yang ada dalam novel dan aplikasinya 22, 23, 24 22, 23, 24
Siswa dapat menemukan unsur-unsur yang ada dalam drama dan aplikasinya 25, 26, 27, 47 25, 26, 27, 47
Siswa dapat mengungkapkan kalimat yang tepat dalam buku harian 28, 29 28, 29
Siswa dapat menyusun sistematika laporan yang benar 30, 31 30, 31
Siswa dapat menyusun sistematika surat pribadi dengan tepat 32, 33 32, 33
Siswa dapat menulis petunjuk tentang sesuatu dengan tepat 34 34
Siswa dapat membedakan iklan, slogan, dan reklame 36, 37 36, 37
Siswa dapat menyusun sistematika sambutan 38 38
Siswa dapat menyusun sistematika karya tulis 39, 40, 41 39, 40, 41
Siswa dapat menulis daftar pustaka dengan benar 42 42
Siswa dapat menulis pantun 45, 46 45, 46
Siswa dapat menyusun kamus 48 48
Siswa dapat menulis kalimat efektif 49, 50 49, 50
Berdasarkan tabel di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua soal tersebut memiliki jenis soal yang paralel karena deskriptor soal yang sma pada nomor soal yang sama pula.





















KARTU DATA
Sebaran Frekuensi Jawaban Siswa terhadap Alternatif Jawaban
Nama:...............................
Nomor Soal Kelompok Tinggi Kelompok Rendah
A B C D A B C D
1
2
3
4
5
6
....
50

1 komentar:

BasRa_Ku mengatakan...

UAN memang perlu, namun sistemnya harus konsisten. diatur menurut perkembangan dan bukan hanya menaikkan standar tanpa memperhatikan porsi yang sudah didapatkan siswa.